Ini CINTA, bukan yang lainnya…

Kita semua tau hidup adalah perjuangan, perjuangan buat bertahan hidup, perjuangan buat ngeraih masa depan, perjuangan buat menyelesaikan masalah2, perjuangan buat meng-indah-kan hidup. Tapi dibalik itu, kita sendiri hidup dibatasi oleh kekurangan dan kelebihan masing-masing, dimana keurangan dan kelebihan itu gimana kita sendiri yang bangun. Gimana buat kita bangun hal2 itu dari keyakinan kita dengan jalan yang tidak salah. Buat gue misalnya, udah banyak makna yang gue dapet dari keingintauan gue sama kehidupan, dari hal pahit sampe hal yang bisa bikin diri gue tetap tertunduk ngeliat tanah. Hal itu gue tangkep karena dari keyakinan dari semua pengalaman gue dari kehidupan.

Di tulisan kali ini, gue akan sedikit membahas arti cinta menurut hasil penelusuran, pengalaman dan semua keyakinan gue sebagai umat islam.

Sekarang, bukan jamannya lagi gue harus belajar itung2an 1-1, 1+1, 1 x 1, 1:1, bukan juga jamannya gue belajar baca a-i-u-e-o, dan (seharusnya) bukan jamannya lagi gue pacaran kayak pacaran jaman2 anak SMA. Sekarang jamannya gue harus belajar banyak tentang keseimbangan antara kehidupan dan kematian (sama semua strategi dalam menjalaninya), namun kadang sering banyak ujian buat gue buat ngelupain kedua hal itu dibalik kesadaran gue, makin naik usia, kurva gue ngejalanin hidup, makin besar juga ujiannya. Itu hal yang ga pernah gue lupain selama gue ngejalanin hidup. Namun kadang gue akuin sering kali gue kejebak di ketidak-sengajaan hal yang mengharuskan gue lupain itu.

Tapi, dibalik kehidupan, gue juga belajar tentang kematian. Gak lama 3 minggu dari blog ini ditulis, nenek dari ibu gue meninggal, gue terima keadaan itu dengan lapang ‘n ikhlas, meskipun pedih, tapi hal itu yang menyadarkan gue akan adanya kematian, hal itu yang merendahkan dari semua ketinggian gue, dan yang selalu meluruskan gue buat selalu percaya kepada sang pencipta.

Dulu, gue kadang sering keblinger sama yang namanya cinta, egois, amarah karna cinta, bahkan sempet putus asa karna cinta. Saat itu adalah saat dimana gue gak nemuin cermin bersih buat gue liat siapa diri gue sebenernya. Dan sekarang gue lebih belajar banyak cinta, selain masukan dari keluarga, semua perjalanan yang pernah gue lewatin, tapi banyak sumber lain yang gue telusurin buat cari tau hal ini lebih banyak.

Penat memang saat itu, tapi setelah banyak hal yang gue liat dari kehidupan luar, banyak hal yang buat gue sadar, mereka semua adalah kerabat gue yang selalu merendahkan dari semua ketinggian gue yang harus gue syukuri, sampai gue simpulkan kalo yang sempurna itu gak selamanya sempurna, yang baik itu gak selamanya baik, yang buruk juga blm selamanya buruk. itu semua bergantung gimana posisi mereka punya keyakinan niat dalam mengungkapkan kebaikan ataupun keburukan yang ada didalam hati mereka masing2.

Balik lagi ke cinta, pada teori dasarnya, cinta itu perasaan jiwa, sebuah naluri, getaran hati, terpanggilnya hati orang yang mencintai terhadap orang2 yang dicintai. Tapi menurut islam sebagai agama yang fitrah, islam mengakui tentang hal ini, cinta akan selalu ada sesampai bumi dan seisinya dihancurkan. Namun perasaan cinta pada dasarnya dikhususkan kepada sang pencipta, malah cinta kepada makhluk-Nya semata2 dicurahkan karna mencintai-Nya. Selain itu, cinta bukan cuman buat pasangan aja, tapi juga harus ngimbangin antara cinta rasul, cinta sesama, cinta terhadap semua harta kekayaan, cinta keluarga, cinta pasangan (gue simpulkan dari sumber: http://goo.gl/Vbp1S).

Tapi setelah gue pelajari, menurut Abdullah Nasih Ulwan, cinta memiliki tiga tingkatan (sumber: http://goo.gl/ZwyFd):

  1. Cinta tingkat tertinggi, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya
  2. Cinta tingkat menengah, cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat, dan semuanya didasari karena cinta kepada-Nya
  3. Cinta tingkat terendah, cinta yang lebih mengutamakan cinta kepada keluarga, harta dan masalah dunia dari pada mencintai Allah dan Rasul-Nya

Memang kita hidup berasal dari rahim sang ibu, tapi jangan sampai beranggapan kita hidup hanya mencintai orang tua ‘n keluarga aja (dan orang2 yang baik sama kita). Jadi sebenernya kemana cinta harus berpihak? sama pacar? orang yang diidam2kan? anak? Tapi apapun yang terjadi, jangan sampai gue masuk kedalam cinta ke-3, sisanya kembali pada pemahaman pribadi masing2.

Banyak orang ngehargain bener sama arti cinta, sampe ada yang hidup mati karna cinta sama pasangan, yang kita sendiri belom tau apa rencana Allah kedepannya, gue yakini pada dasarnya makna ini simple, tapi kadang banyak orang yang mempersulit ini karena penyakit hati (http://goo.gl/KaF78) akhirnya lahir perbedaan kepercayaan maupun keyakinan. Sulit memang buat gabungin perbedaan. Akhirnya, kadang banyak dari mereka yang putus asa dan hancur karna ini.

Akhirnya, gue simpulkan kita dilahirkan untuk saling mencintai, gue pun sadar bahwa sebelum dilahirkan sudah ada nafsu yang dikendalikan oleh akal, yang berasal dari Qolbu (http://goo.gl/I6RjU) tapi bagaimana kita mencintai apa, siapa dan dengan cara apa bergantung kepada keyakinan diri pribadi masing2 dalam menyikapi cinta itu sendiri.

Selamat pagi, selamat tidur.

Content Protection by DMCA.com